31 JANUARI 2023
Token AI-nya sisa 2 tapi jaringan internet di kampungnya tidak bisa membantu dengan kecepatan yang diharapkan. Sedangkan angin begitu kencang menggoyangkan nyiur diatas kepala. Membuat seekor kupu-kupu yang menari terperangkap masuk ke rumah.
Hati-hati nanti kena timpuk teriaknya. Pentil Kelapa berjatuhan dan bisa saja membunuhmu. Tapi Ain Syams dan Zangky tidak mengindahkan. Asyik bermain sepeda baru yang dibawanya dari Dharmasraya. Sedangkan Attaqi dan Mukimah ikut dengan ayah ibunya ke Sungayang.
Hatinya agak kesal. Tapi ia coba menatanya seperti butiran pasir yang tetap teronggok di depan rumahnya. Meski diterka angin badai, dihujani panas, meski anak-anak tetangga menginjak-injaknya sambil berlarian. Pasir itu tetap sedia kala. Setidaknya berusaha tegar seperti bebatuan karang. Meski sudah tidak semenjulang kala diturunkan tukang.
Hai pasir. Tahukah ia bahwa esok ia akan jadi saksi kehidupan kami setelah renovasi rumah kamu dilanjutkan? Bercampur dengan adukan semen sebelum ditutupi acian? Entahlah, mungkin saja benda mati pun terkadang bisa menyimpan kenangan. Seperti orang mati yang bergentayangan. Sementara kupu-kupu itu masih mencari celah untuk keluar.
“Cucianmu udah kering, kalau gak diangkat nanti lembab” ucap Ibunya di muka pintu. Ia yang sedari tadi duduk diteras rumah sambil mengotak-atik website Deepfake MyHeritage di hp nya yang konon bisa membuat foto manusia bisa bergerak, hidup dan tersenyum. Akhirnya melangkah ke jemuran kain disamping rumah. Tak lupa ia terlebih dahulu mengambil terpal kecil di dalam gudang. Buat menutupi pasir agar tidak padat dan menggumpal.
Ia melempar baju-baju yang diangkatnya dari jemuran ke kursi di ruang tamu. Kembali mengambil HP nya di saku. Ibunya yang memperhatikannya dari pintu masuk kini menatapnya tajam.
Mungkin ia kesal anaknya terus-menerus melihat HP sejak sore tadi. Atau sang ibu tak tahan melihat baju yang dilempar dengan kasar ke kursi. Atau mungkin ia tak sengaja melihatku yang kini berjalan berdampingan dengan si anak.
Tapi si anak malah tersenyum. Tampaknya foto itu telah berhasil di download. Lewat fitur AI yang bisa membuat sebuah foto hidup. Dengan kepercayaan diri ia melangkah, seakan memberi sebuah kado ulang tahun. Atau sebuah lamaran. Atau apa saja yang mungkin bisa melembutkan tatapan ibunya yang sejak pagi berwajah sendu.
Angin sore menjelang malam menyisir lembut gorden dirumah kami. Gorden itu dulu aku yang beli. Terdiri dari dua lapis. Warna putih transparan yang biasanya dipakai di siang hari. Pada tengah batas jendela diikat gorden motif bewarna krim yang hanya dibuka ikatannya jika sudah malam. Lampu-lampu belum dihidupkan. Husnul masih mandi setelah pulang dari kebun. Anak-anak yang main sepedaan itu masih terdengar teriakan serunya. Kupu-kupu sibuk menabrakkan kepalanya ke kaca jendela. Seolah tak ingin berlama-lama.
Aku, aku tentu saja penasaran. Kulangkahkan kaki ikut mendekati anak dan ibu yang sedang duduk berdua di ruang tamu. Kucondongkan badanku agar jelas juga kulihat foto yang bergerak hidup itu.
“Coba lihat Ma,” ujar sang anak. Ia tersenyum bangga. Melihatnya sebagian diriku ikut tersenyum. Tapi sebagian yang lain merasa campur aduk.
Brukkk!
Hp itu jatuh ke lantai. Mata ibunya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Tapi tak sekalimatpun terucap. Ibunya bangkit dengan susah payah. Menuju kamar. Meninggalkan anaknya yang kebingungan. Dan menutup pintu kamar itu.
Hari ini 31 Januari. Tanggal kematian ayahnya bertahun-tahun lalu. Anak itu mungkin merasa ingin sekali mengenal ayahnya. Tapi ibunya selalu membisu jika ia bertanya tentang sang ayah. Mungkin ia berharap ibunya akan sedikit saja bersedia hati setelah melihat foto suaminya bergerak dan tersenyum dengan bantuan AI.
Anak itu tertawa stres sambil memungut hapenya di lantai. Tahukah ia bahwa disampingnya ada seseorang yang kini menangis pilu tapi tak mengeluarkan air mata. Yang tak punya andil dan daya untuk menghibur dua orang yang kini bersamanya.
“Emang se cinta itu ya sama Appa. Liat fotonya aja Amma nangis,” keluh sang anak.
Dan disini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab kupu-kupu yang terbang di gorden jendela rumah kita akan segera keluar, Nak. Waktuku habis. Tutuplah pintu rumahmu. Buka ikatan gorden bewarna coklat. Hidupkan lampu-lampu. Sebab malam akan menghadiahimu kehidupan besok harinya. Tak ada yang bisa menghibur ibumu selain ketegaran dan kesetiaannya. Terimakasih atas kelapangan yang kau dan saudaramu beri lewat doa-doa.
“Ayah…” Ucapmu lirih. Getir. Sunyi. Nada suara yang tak ingin seseorang pergi.
Iya Nak, akulah ayahmu. Senyumku tak jauh berbeda dengan foto yang kau tatap dilayar hpmu. Tapi ada yang lebih nyata dari itu. Kubisikkan ditelinga kanan saat kelahiranmu, kutinggalkan kemiripanku di rambut, hidung dan matamu, kutitipkan penjagaanku pada ibumu. Meski kini tak bisa lagi kuredakan tangisnya dibilik kamar itu. Meski kini, tanganku tak bisa lagi menggapaimu. Tapi bukankah kepergian seseorang karena Tuhan mencintainya? Maka ikhlaskan aku. Bukankah kedatangan arwah karena arwah dan penghuni rumah itu saling merindu?
“Waktumu habis” ucap Kupu-kupu sambil melewati ventilasi diatas jendela. Ia tak lagi terlihat seperti kupu-kupu yang tersesat. Sesungguhnya, ia adalah malaikat. Sayapnya menutupi langit sore. Menerbitkan malam. Malaikat itu adalah malaikat yang menuntun arwah untuk kembali kepada orang-orang yang dirindukannya. Dan kini aku terbang bersamanya. Menuju langit.
TAMAXXX
